KETURUNAN INDIA
![]() |
Kampus UNESA dilihat dari pintu masuk. (Sumber: https://www.unesa.ac.id) |
Surabaya.
UNESA kampus geografi ketintang 2004. Siang itu kelas terasa sepi, suasana agak
membosankan dan mata kuliah saat itu membuat kami seperti dinina bobok.
Psikologi pendidikan adalah salah satu mata kuliah wajib bagi setiap mahasiswa
yang menempuh jalur pendidikan saat itu.
Akupun terasa agak ngantuk padahal posisi dudukku ada dibarisan paling
depan, dosen psikologi pendidikan yang sudah agak tua namun suaranya masih
terbilang nyaring terkadang membuat lelucon dan membuka season tanya jawab agar
kami yang terlihat sayu-sayu tidak semakin pules.
Saat ditengah-tengah
menerangkan materi tentang keterkaitan perbedaan fisik dan sikap seseorang
dengan faktor gen, beliau tiba-tiba membuat contoh dengan menunjuk salah satu
teman yang duduknya paling depan bagian samping kananku. Dosen berkata “hai
kamu (sambil jarinya menunjuk ke arah mahasiswa tadi) dengan muka sedikit kaget
dia kembali bertanya “saya bu?”, “iya kamu”(sambil nada menguatkan kalau memang
benar dia yang dimaksud). Kemudia dengan nada lembut dosen tadi bertanya lagi “siapa
nama kamu?” langsung saja temanku menjawab dengan tegas “ Muhammad Helmi Abidin
bu”. Dosen pun kembali bertanya “kamu bukan asli keturunan Indonesia kan?”. Seketika
satu kelas saling memandang dengan sedikit agak heran, dan mungkin dalam benak
mereka sama seperti apa yang ada dalam pikiranku “dosen ini ngomong apa, wong
mukanya aja biasa gak ada ciri-ciri seperti oang luar, halah pasti tebakannya
salah”. Helmi (panggilan Muhammad helmi abidin ketika di kampus) menjawab “ya bu,
ibu saya memang bukan orang Indonesia dia asli dari India.
Seketika aku dan
teman-temanku baru menyadari kalau ternyata si helmi bukan keturunan asli
Indonesia. Peristiwa ini memberiku pelajaran untuk tidak meremehkan pendapat
guru walaupun kita tidak sependapat atau belum tentu terbukti kebenarannyya. Dosen
kembali memaparkan materinya sambil menunjuk si helmi “coba lihat mata dan
hidungnya, secara bentuk wajah helmi mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan kalian”. Kami semua melotot sambil melihat wajah helmi yang dianggap
berbeda oleh dosen. Ternyata setelah kami amati memang dia memiliki bentuk
hidung mancung dan mata gelap yang sedikit berbeda dengan kita.
Selain dari segi
fisik, sikap, cara berbicara, dan pola berpikir helmi memang cenderung berbeda
dengan teman laki-laki lainnya. Hal ini disebabkan oleh factor bawaan, namun pengaruh
lingkungan keluarga juga terlihat sangat berperan. Karena, dia pernah bercerita
kalau sosok ibunya sangat berpengaruh dalam setiap langkah hidupnya.
Secara pergaulan,
helmi tidak pernah memandang latar belakang atau asal usul seseorang. Namun,
untuk dijadikan sebagai teman intens ngobrol tentang hal yang dianggap serius
missal impiannya, keluarganya, karya-karya ilmiahnya ataupun membahas terkait
study yang dianggapnya sulit dan perlu didiskusikan dengan orang, tidak
sembarang orang yang dia ajak ngobrol.
Jika membahas
mengenai sikap, helmi kategori laki-laki yang humoris, cuek dan ramah pada
siapapun, namun tidak terlalu suka dengan hal-hal yang dianggap agak berlebihan
missal cewek yang terlalu genit, menor atau seseorang yang terlalu vocal namun
yang diomong tidak sesuai dengan kenyataannya. Sedangkan dari cara
berbicaranya, ketika menyampaikan sesuatu helmi dapat berbicara dengan runtut
dan menggunakan dasar, namun kelemahannya dia kadang ngomong dengan intonasi
yang agak terlalu cepat sehingga teman yang songong seperti aku agak telat
memahaminya.
Yang terakhir dari
segi pola pikir, helmi kategori laki-laki yang mempunyai ambisi dan impian
untuk meraih sesuatu. Dia kalau sudah menginginkan sesuatu tidak akan goyah
sedikitpun sebelum impianya tercapai. Dan ini terbukti selama 4 tahun aku
kuliah bersamanya, tak pernah sekalipun aku melihat dia menggandeng perempuan
atau sekedar nongkrong-nongkrong santai di halaman kampus. Yang aku lihat dia
sibuk keluar masuk perpustakaan, diskusi dengan para dosen, dan mengikuti lomba
karya ilmiah yang diadakan kampus. Bahkan dia lolos menjadi juara lomba karya
tulis ilmiah versi bahasa inggris tingkat universitas dan sebagai hadiahnya dia
bisa ikut upacara bendera di istana Negara bersama bapak Presiden.
Helmi adalah tipe
orang yang bertanggung jawab dan tekun, apalagi terkait dengan tugas kampus.
Pernah suatu ketika ada tugas mata kuliah kartografi yang mana kita disuruh
memetakan kampus dan itu harus dikerjakan berkelompok, dari 7 orang dalam satu
kelompok hanya dia yang membantuku mengerjakan. Apalagi ketika ada tugas di lab
pada saat mata kuliah SIG, helmi selalu menjadi idola kaum hawa. Dia selalu
dipanggil ke sana kemari dengan tujuan untuk membantu mengoperasionalkan program
yang kita anggap ribet dan sulit pada saat itu. Sampai ada salah satu teman
terdengar berkomentar “untung helmi gak punya cewek, andai dia punya cewek
pasti ceweknya akan cemburu. Tapi seperti apa ya kalau helmi pacaran??” Suasana
yang awalnya serius sontak semua tertawa mendengar clotehan salah satu teman
tadi. Kita ketawa karena kita tahu helmi amat cuek dan tidak pernah
memperdulikan yang namanya perasaan dengan lawan jenis. Mendengar teman-temannya terkesan meledek
dia, si helmipun tidak pernah marah-marah. Paling kalau dia tidak suka cuma
diam, dan pura-pura tidak dengar dan tidak ambil pusing sambil bilang “gak
penting”.
Selain dari semua
karakteristik di atas, helmi juga termasuk kategori laki-laki yang religious.
Memang secara pergaulan, sikap itu tidak terlalu dia perlihatkan. Karena katika
bergaul dengan teman-temannya dia seperti teman lain pada umumnya termasuk juga
dengan perempuan. Cuma dalam kehidupan sehari-hari dia lebih memilih tinggal di
kontrakkan dengan lingkungan yang memegang
teguh dasar-dasar agama daripada di kos dengan lingkungan pergaulan yang
sedikit bebas.
JEPANG ADALAH NEGERI
IMPIAN
![]() |
Bunga sakura merupakan salah satu icon negeri matahari terbit. (Sumber:http//www.eramuslim.com) |
Siang itu setelah
kuliah usai, aku duduk di teras jurusan sambil menunggu temanku yang masih
punya urusan karena kami mau pulang bersama. Tiba-tiba helmi menghampiri dan
menyapaku “hei siti”.. (siti adalah nama panggilanku saat aku di Surabaya) “hei
hel, mau pulang?”sahut aku menjawab sapaannya. Kemudian helmi duduk disamping
agak ke depan dan kita membahas mata kuliah yang barusan tadi diajarkan. Dan
tak tahu entah apa yang membelokkan alur pembicaraan, tiba-tiba helmi bercerita
tentang negeri sakura. Dan dia juga menunjukkan kepadaku kemampuannya dalam
berbahasa jepang dan menulis dengan menggunakan huruf jepang. Dia mempraktekkan
menulis namaku dengan tulisan huruf jepang yang sama sekali tidak aku fahami.
Ditengah pembicaraan
tentang seluk beluk negeri sushi dengan beragam iklimnya, kebudayaanya, dan
orang-orangnya, helmi berkata “aku suatu saat nanti mau melanjutkan kuliah ke
jepang”. Aku tidak menimpali kata apapun dan hanya mendengarkan saja apa yang
dia impikan. Dengan melihat prestasinya, ke akrabannya dengan para dosen, dan kemampuannya
dalam berbahasa asing, saat itu aku percaya dan yakin kalau suatu saat nanti
helmi mampu mewujudkan impian-impiannya.
Selain menunjukkan
kemampuan bahasa jepangnya, ketika duduk dengan teman-teman lainnya ataupun
ketika dengan aku sendiri helmi juga sering mengajak tebak-tebakkan menunjukkan
letak sebuah kota besar maupun kota kecil d Negara-negara secara acak yang tertera pada peta. Dan
lokasi yang sering dia jadikan sasaran tebakan adalah kota-kota yang ada di
benua Eropa. Bisa diduga aku dan teman-temanku tidak pernah benar dalam
menebak, ya karena memang kita tidak tahu. Hafal lokasi semua Negara saja itu
sudah sesuatu yang membanggakan bagi kami, dan memang tidak terfikir untuk
mempelajari sampai ke kota-kota yang ada di setiap Negara bahkan kota-kota
kecil yang kita anggap tidak penting. Tapi itulah helmi, seorang mahasiswa yang
kutu buku, yang wawasannya setara atau bahkan melebihi dosennya. Sehingga pas
semester akhir, masa-masa tinggal menunggu wisuda helmi menjadi asisten dosen
dan membantu adek-adek tingkat untuk mengoperasionalkan program SIG.
Helmi selain cerdas,
yang paling terlihat dari dia adalah keuletannya. Dan dia selalu memanfaatkan
waktu luang untuk membaca buku. Sering ketika aku di perpustakaan saat duduk
memandangi tulisan yang lebih dekat sebagai sarana hipnoterapi bagiku dari pada
sebagai sumber ilmu (karena tak lama setelah membuka buku, pasti mata ini
rasanya penat, ngantuk dan ingin terpejam), terlihat helmi dengan langkah penuh
semangat dan seperti tidak ada kata lelah maupun letih keluar dari ruang
perpustakaan khusus pasca sarjana, kadang dari ruang koleksi jurnal dan
ensiklopedia. Sehingga banyak ilmu yang dia dapat secara otodidak karena hasil
dari belajar sendiri. Dan ketika hendak melakukan sesuatu, dia tidak pernah
menunggu bareng dengan teman seperti yang lainnya. Dia tidak tergantung pada
siappun. Sepertinya dia yakin dan faham apa yang dia butuhkan tidak sama dengan
apa yang dibutuhkan orang lain. Masa depan dia, tidak tergantung pada tangan
orang lain melainkan dari tangan dan usahanya sendiri.
PENANTIAN KELULUSAN
![]() |
Helmi duduk santai menikmati musim gugur pertama saat di Eropa. Sumber: instagram@helmiabi |
Helmi tergolong
mahasiswa yang berprestasi, sehingga proses perkuliahannya berjalan lancar
tanpa ada kendala apapun baik dari segi
biaya ataupun terkait program studynya. Karena tiap semester dia selalu
mendapat beasiswa prestasi dari kampus.
Sejak akhir semester
6 dia sudah mengajukan proposal sekripsi. Dengan serangkaian revisi-revisi
akhirnya pada semester 7 dia baru melaksanakan sidang proposal. Dan dia adalah
orang pertama yang melaksanakan sidang sekripsi di kelas kami (kelas B).
Geografi angkatan 2004 baik yang masuk melalui jalur reguler maupun ekstention
dibagi menjadi 2 kelas, kelas A dan kelas B.
Di kelas kami (kelas
B) helmi merupakan salah satu mahasiswa yang paling rajin sehingga tak salah
jika IP nya selalu yang tertinggi diantara teman lainnya. Namun setelah KHS an
(KHS = Kartu Hasil Studi) terkadang dia juga suka bertanya bagaimana dengan
hasilku, dan itu menandakan bahwa dia peduli akan sebuah peringkat/prestasi. “Berapa
IP kamu sit??” ketika mendengar pertanyaan dia, terkadang aku hanya ingin
tertawa, karena orang seperti dia ternyata masih memperdulikan milik orang
lain. Padahal secara kenyataannya, dia selalu di atas rata-rata kami semua. Ya
itulah helmi, orang yang selalu mentarget akan sebuah prestasi dalam setiap
tahap kehidupan yang dia lalui.
Kebetulan aku dan
helmi berada di kelas yang sama yaitu kelas B. Setelah aku tahu helmi
mengajukan proposal sekripsi, aku tak mau ketinggalan karena dalam hal apapun
terkadang aku melihat dia sebagai cermin yang harus aku tiru, karena aku tahu
proses kuliahku harus lancar. Ini terkait dengan beasiswa dari sebuah yayasan
yang mensyaratkan aku untuk lulus tepat waktu.
Helmi terus
mendorongku agar bisa segera lulus. Sehingga sejak semester 6 aku sudah mulai
berpikir jenis penelitian apa yang akan aku ambil. Karena dalam jurusan
pendidikan geografi kita diberi tiga pilihan jenis penelitian yaitu geografi
fisik, kesehatan dan pendidikan. Saat itu helmi mengambil jenis penelitian
geografi fisik dengan judul “Identifikasi
daerah potensi rawan tanah longsor di kecamatan sukapura kabupaten pobolinggo”.
Sedang aku masih
bingung, dan di tengah kebingunganku helmi
menyarankan aku untuk mengambil kesehatan. Memang aku pun menyadari kalau fisik
itu terlalu berat bagiku, tapi kalau pendidikan sebenarnya aku tidak terlalu
tertarik. Sehingga jatuhlah pilihanku pada penelitian tentang geografi
kesehatan. Dan aku mengambil sampel di daerah Surabaya agar dekat dengan
kampus.
Penelitianku termasuk
kuantitatif, sehingga pengolahan data tidak lepas dari progam statistik. Setiap
ada kendala, helmi mendorongku untuk segera menemui bu Ita selaku dosen
statistik terapan. Alhamdulillah semua berjalan lancar, sehingga semester 7 aku
sidang proposal dan semester 8 ujian sekripsi. Begitu juga dengan si helmi, di
semester 8 dia juga sudah menyelesaikan semua tugas kuliah. Namun dia tidak
segera mencari kerja ataupun mendaftar untuk melanjutkan program S2. Karena dia
selalu berangan-angan untuk melanjutkan kuliah S2 ke luar negeri terutama ke
Jepang melalui jalur beasiswa. Sehingga sembari menunggu ada pengumuman
beasiswa, dia membantu menjadi asisten dosen di kampus.
Alhamdulillah, tepat
bulan September 2008 kuliah di jurusan pendidikan geografi UNESA telah usai,
dan pada saat itu di kelas B hanya tiga mahasiswa yang lulus tepat waktu.
Helmi, aku dan satu lagi teman dari Tuban. Namun, takdir Tuhan memang tidak
bisa di tebak. Angan-anganku untuk berkarier setelah lulus harus aku pendam
karena sebelum wisuda aku sudah berstatus seorang istri yang harus ikut suami,
dan kebetulan suami tidak menginginkanku bekerja agar fokus mengurus rumah
tangga. Dengan tujuan sewaktu-waktu dia pulang, ketika dalam keadaan lelah dan
letih ada yang menanti dan melayani.
KULIAH DI Istanbul Technical
University (ITU)
Ngawi,2015. Takdir Tuhan lagi-lagi tidak bisa diprediksi. Dalam sekejap bagai membalikkan telapak tangan Tuhan membalikkan nasibku. Aku harus memulai semua dari 0. Dari situ aku mulai berkomunikasi kembali dengan teman-teman lama, dan rajin silaturahim dengan orang-orang baru untuk membangun jaringan dan relasi.
Setelah sekian lama
kurang lebih 8 tahun lamanya, aku tidak mengenal yang namanya media sosial
maupun internet. Kini aku mulai membuka diri sehingga dunia baru, skema baru
dan harapan baru berasa ada di depan mata. Setelah mengenal media sosial, orang
pertama yang aku ingat dan ingin aku hubungi adalah helmi. Ya helmi adalah
orang pertama yang ada dibenakku untuk aku cari tahu keberadaannya. Karena aku
ingin membuktikan bagaimana Tuhan memberi kehidupan pada salah satu temanku
yang dulu mempunyai impian dan ambisi besar.
Semua media sosial
aku cari yang namanya helmi, agak sulit memang. Karena akunku baru, sehingga
belum banyak pertemanan dan mayoritas nama akun mereka bukan nama asli.
Akhirnya akun helmi aku temukan lewat facebook, pada akunnya aku temukan
berbagai foto dia dengan background kehidupan di Eropa. Mulai foto di depan
menara eifel, bunga latulip di belanda saat musim semi dan lain sebagainya. Dan
aku lihat caption diprofilnya dia adalah seorang traveler plus geographer. Sehingga
yang ada di fikiranku hanya rasa penasaan “kok dia bisa sampai eropa??,
bagaimana ya ceritanya??”. Untuk menjawab rasa penasaranku, aku langsung kirim
massanger ke dia. “helmiiii,,” dengan penuh semangat aku menyapa dia. Dia
akhirnya merespon dengan membalas “ini siti??” dengan pertanyaan yang
menandakan setengah kaget dan tidak percaya karena setelah sekian lama
menghilang tiba-tiba aku muncul.
Dari situ aku mulai
menginterogasi dia. “helmi kamu sekarang dimana, kerja apa dan sudah menikah
belum??” bagai gerbong kereta api aku mencerca helmi dengan
pertanyaan-pertanyaan yang membuat dia harus menulis balasan dengan kalimat
yang panjang. “belum siti, aku sekarang di Turki dan bekerja di sebuah
perusahaan swasta di sana”. Aku bangga, terharu dan sekaligus heran. “kok bisa
hel??, kok gak jadi ke Jepang?” helmipun sedikit cerita, saat dia lulus sambil
menunggu info beasiswa kuliah ke luar negeri awalnya sih memang sasarannya ke
Jepang, namun tidak ada info beasiswa S2 ke sana. Akhirnya sambil mengabdi
sebagai asisten dosen, dia menunggu info beasiswa S2, kali ini dia tidak
memilih tempat. Asal ada info beasiswa dia langsung coba.
Kesempatan itupun
datang. Kesempatan pertama datang dari beasiswa Asian Development Bank (ADB)
Scholarship, namun ternyata beasiswa ini mensuaratkan pelamar memiliki
pengalaman kerja minimal 2 tahun. Sehingga kesempatan kali ini gagal, dia tidak
jadi mendaftar karena dia memang belum punya penglaman itu. Selanjtnya, datanglah
kesempatan ke dua tepatnya pada bulan april 2011, yaitu tawaran beasiswa dari
Australian Development Scholarship (ADS) dan Turkish Government Scholarship
(TGS). Keduanya dia coba memasukkan lamaran, namun beasiswa pemeintah Turki
lebih cepat memberikan pengumuman hasil seleksi, sehingga beasiswa dari
pemerintah Turki itulah yang menjadi jalan dia untuk melanjutkan pendidikan S2
ke luar negeri.
Adapun universitas di
Turki yang menjadi pilihannya adalah Istanbul Technical University (ITU) salah
satu universitas negeri yang mempunyai empat kampus yang tersebar di beberapa
lokasi yang berbeda antara lain Maslak sebagai kampus utama, di Taskisla, Macka
dan Gumusuyu. Dan kampusnya kebetulan berada di lokasi kampus utama yaitu di
Maslak.
Sekarang aku baru
memahami bagaimana selama ini helmi bisa menjelajah hampir seluruh kota-kota
besar yang ada di Eropa. Karena memang secara geografis dia berada di sebuah
Negara yang menjadi jalur perlintasan antara dua benua yaitu Asia dan Eropa.
Pertanyaanku belum semua
terjawab terutama terkait status dia. “helmi sudah menikah?” dia pun membalas
dengan jawaban “belum siti”, seketika aku terkejut, helmi yang dulu cuek tekait
hal perempuan kenapa masih sama sampai sekarang?.. “nunggu apa hel??” tanyaku
penuh dengan penasaran. “santai siti, mamaku dulu menikah umur 31 tahun,
padahal dia perempuan. Yang penting sekarang focus ke karier dulu mumpung masih
muda”. Akupun berusaha memahami orang-orang yang mempunyai jiwa seperti helmi
bahwa mumpung masih ada kesempatan, dia akan memaksimalkan sebisa mungkin untuk
dimanfaatkan dengan baik.
ISDR-ASIA PARTNESHIP
![]() |
Helmi beserta delegasi lain dari Indonesia dan ketua UNISDR. Sumber: https://free.facebook.com/helmi.abidin.7?refid=46&_xts_%5B0%5D=12.%7B.. |
16 Desember 2018.
Secara tidak sengaja aku membuka fb dan pada dinding berandaku terpampang foto
helmi yang terlihat berada di sebuah forum internasional. Dan di bawah foto
terdapat caption “Contructive meeting
with multi stakeholders in the region toward GP 2019 in Geneva and the achievement
target e SFDRR 2020 during AMCDRR in Sydney (IAP UN-ISDR UNCC Bangkok 2018). Yang
aku tangkap dari tulisan tersebut bahwa dia berada di sebuah forum yang membina
pertemuan dari multi-pihak informal untuk mencapai pengurangan resiko bencana
melalui penerapan Kerangka Sendai dan Rencana Regional Asia.
![]() |
Ruang meeting sebelum acara dimulai. Sumber: https://free.facebook.com/helmi.abidin.7?refid=46&_xts_%5B0%5D=12.%7B.. |
Forum tersebut mencakup pemerintah, organisasi antar pemerintah, organisasi masyarakat sipil, PBB, organisasi internasional, dan donor bilateral dan multilateral. Secara kolektif, IAP dan AMCDRR yang berlangsung di Bangkok tersebut membentuk platform regional yang hasilnya akan di bawa pada forum Global Platform (GP) yang akan diadakan di Jenewa tahun 2019 mendatang. Dan setelah aku amati dari semua fotonya, pada pertemuan tersebut ternyata dia merupakan salah satu delegasi wakil dari Indonesia.
![]() |
Id card tanda bukti peserta meeting. Sumber: https://free.facebook.com/helmi.abidin.7?refid=46&_xts_%5B0%5D=12.%7B.. |
Jikamengingat jejak
rekam masa kuliahnya dulu, melihat dia yang sekarang tidak sedikitpun aku merasa
heran ataupun kaget. Namun, hanya bangga dan membuktikan pada mereka yang masih
berfikir bahwa kesuksesan akan datang dengan sendirinya tanpa adanya usaha. Inilah
buah dari kombinasi antara impian, kerja
keras, prestasi yang pada akhirnya menghasilkan sebuah kesuksesan.
Untuk mencapai sebuah
kesuksesan ada sebuah tahap pengorbanan dan kerja keras yang harus dilakukan. Suskes
bukan hanya melulu soal pencapaian dari sebuah pekerjaan yang menjadikan uang
dan harta sebagai tolok ukurnya. Namun, tak bisa dipungkiri inilah yang sering
kali menjadi patokan salah satu karakteristik dari sebuah kesukssan.
Ambillah sisi positif
dari semangat berkelanjutan versi cerita ini, untuk meraih kesuksesan versi
anda sendiri. Ditengah jalan mungkin anda akan menemui kegagalan berkali-kali,
namun bertahanlah. Karena setidaknya anda akan sadar sebuah kekurangan diri, dan
menjadikan itu sebagai guru yang akan menambah pengalaman anda. “Kesuksesan bukan akhir, kegagalan bukan hal
yang fatal: itu adalah keberanian untuk melanjutkan apa yang penting. - Winston Churchill-
Semoga manfaat...
See you next time, Insyaallah..
By: moshrefa_siti